Kebohongan Para Koruptor Di Indonesia


Suatu ketika, seseorang meminjam keledai pada Nasaruddin. Nasaruddin berkata keledainya tidak ada, sedang dipinjamkan pada orang lain. Tapi tiba-tiba dari belakang rumahnya terdengar ringkik keledainya. Orang itu pun berkata, “nah itu keledainya ada di belakang rumah, kok dibilang tidak ada”. Dengan santai Nasaruddin balik bertanya, “anda mau percaya siapa, aku atau keledai?”.

Anekdot Nasaruddin ini ingin menunjukan satu contoh model kebohongan, yaitu berbohong walau jelas-jelas ada fakta yang membantah kebohongannya.

Kebohongan model Nasaruddin tersebut paling banyak diadopsi koruptor. Pertama, koruptor memang sudah pasti pembohong. Uang hasil korupsinya dia katakan hasil jerih payah legal dan halal, padahal sudah jelas melanggar hukum dan haram. Kedua, ketika korupsinya tercium dan mulai diproses secara hukum, muncul lagi aneka kebohongan yang lain.
Salah satu dari aneka kebohongan itu namanya kebohongan sakit. Banyak sekali koruptor begitu diproses secara hukum lalu beralasan sakit. Bahkan ada yang sakitnya bisa disetel harus berobat ke luar negeri. Diantaranya ada yang malah kabur dan tidak pernah kembali lagi.

Menggelikan sekali, di negeri ini bahkan ada orang yang terindikasi korupsi, baru akan diperiksa sebagai saksi tiba-tiba sakit. Setelah kasusnya agak reda, tidak dihebohkan, dia sehat lagi, bahkan jalan-jalan ke luar negeri. Begitu kasusnya diteruskan dan dirinya ditetapkan sebagai tersangka, dia mendadak sakit lagi.
Jurus kebohongan sakit tampaknya jadi jurus paling ampuh untuk para koruptor saat ini. Ada yang gunakan kebohongan sakit untuk mengulur waktu agar bisa menyiapkan diri dari jeratan hukum. Ada pula yang pakai jurus kebohongan sakit dengan niat memang mau kabur.
Lebih aneh lagi, ada saja pendukung dan pembelanya yang ikut-ikutan memperkuat kebohongannya. Bahkan melalui konferensi pers, memberi penjelasan yang tidak masuk akal. Mana ada orang sakit baru dua minggu tiba-tiba kurus karena berat badannya turun 18 kg.
Dulu pernah ada koruptor yang tertangkap tangan menyuap jaksa, diajari pengacaranya untuk mengatakan bahwa itu uang bisnis berlian. Bisnis berlian kok dengan jaksa.
Alhasil, jurus kebohongan khususnya kebohongan sakit adalah jurus yang paling ampuh dilakukan oleh para koruptor untuk melepaskan dirinya dari jeratan hukum atau paling tidak meringankan hukumannya. Banyak sekali yang berhasil karena divonis bebas. Yang lainnya dihukum ringan, lalu tidak lama kemudian bebas karena selalu dapat remisi.
Korupsi sendiri adalah sebuah kebohongan. Diperlukan kebohongan lain untuk menutupinya. Untuk menutupi itu bahkan melibatkan kolega pendukung, teman separtai, sampai penegak hukum sendiri. Maka semakin lengkaplah cerita korupsi di negeri ini, negeri yang penuh dengan kebohongan. Negeri penuh retorika kebohongan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: