Aneh, Pohon Cemara Tumbuh Di Paru-Paru Seorang Pasien

Pohon cemara dengan tinggi 5 cm telah ditemukan di paru-paru seorang lelaki yang mengeluh rasa sakit yang kuat di dada dan batuk berdarah.

Pasien bernama Artyom Sidorkin, datang ke Rumah Sakit di Kota Izhevsk di Rusia Tengah seperti dilaporkan koran harian Komsomolskaya Pravda.

Dokter mengx-ray dadanya dan ditemukan tumor di salah satu paru-paru pasien tersebut. Diperkirakan kanker, mereka kemudian membuat keputusan untuk melakukan biopsi, tetapi ketika mereka memotong jaringan, mereka kagum melihat jarum hijau yang dipotong.

“Saya melihatnya tiga kali, dan saya pikir telah melihat sesuatu, kemudian saya dipanggil asisten untuk melihat” ujar Vladimir Kamashev, Dokter di Pusat Kanker Udmurtian. Lalu 5 cm cabang itu diangkat dari tubuh pasien.

“Mereka mengatakan padaku bahwa batuk darah itu bukan disebabkan oleh penyakit apapun” ujar Sidorkin. “Itu adalah akar sebesar jarum yang menempel dan sangat menyakitkan. Tapi saya tidak pernah merasa seperti saya memiliki benda asing di dalam tubuhku”.

Dokter mengatakan, “Jelas 5 cm cabang terlalu besar untuk ditelan”. Mereka mengatakan bahwa pasien mungkin telah menghirup serbuk pohon cemara kecil, yang kemudian mulai tumbuh di dalam tubuhnya.

Sementara itu, bagian dari paru-paru dengan sedikit pohon cemara dijaga untuk dipelajari lebih lanjut.

Iklan

Ritual Unik Suku Toraja, Membersihkan Dan Mengganti Busana Jenazah Leluhur

Tana Toraja di Sulawesi Selatan sudah lama terkenal dengan alam pegunungannya yang permai serta ritual adatnya yang unik.
Yang paling tersohor, tentu saja pesta Rambu Solo yang digelar menjelang pemakaman tokoh yang dihormati. Tiap tahun pesta yang berlangsung di beberapa tempat di Toraja ini senantiasa mengundang kedatangan ribuan wisatawan.
Selain Rambu Solo, sebenarnya ada satu ritual adat nan langka di Toraja, yakni Ma’nene’ (Ritual membersihkan dan mengganti busana jenazah leluhur)

Ritual ini memang hanya dikenal masyarakat Baruppu di pedalaman Toraja Utara. Biasanya Ma’nene’ digelar tiap bulan Agustus. Saat Ma’nene’ berlangsung, peti-peti mati para leluhur, tokoh dan orang tua dikeluarkan dari makam-makam dan liang batu kemudian diletakkan di arena upacara.
Di sana, sanak keluarga dan para kerabat sudah berkumpul. Secara perlahan, mereka mengeluarkan jenazah (baik yang masih utuh maupun yang tinggal tulang-belulang) dan mengganti busana yang melekat di tubuh jenazah dengan yang baru. Mereka memperlakukan sang mayat seolah-olah masih hidup dan tetap menjadi bagian dari keluarga besar.

Ritual Ma’nene’ oleh masyarakat Baruppu dianggap sebagai wujud kecintaan mereka pada para leluhur, tokoh dan kerabat yang sudah meninggal dunia. Mereka tetap berharap, arwah leluhur menjaga mereka dari gangguan jahat, hama tanaman, juga kesialan hidup.

Asal Muasal Ritual Ma’nene’ di Baruppu
Kisah turun temurun menyebutkan, pada zaman dahulu terdapatlah seorang pemburu binatang bernama Pong Rumasek. Saat sedang berburu di kawasan hutan pegunungan Balla, bukannya menemukan binatang hutan, Ia malah menemukan jasad seseorang yang telah lama meninggal dunia. Mayat itu tergeletak di bawah pepohonan, terlantar dan tinggal tulang-belulang. Merasa kasihan, Pong Rumasek kemudian merawat mayat itu semampunya. Dibungkusnya tulang-belulang itu dengan baju yang dipakainya, lalu diletakkan di areal yang lapang dan layak. Setelah itu, Pong Rumasek melanjutkan perburuannya.
Tak dinyana, semenjak kejadian itu, setiap kali Pong Rumasek berburu, ia selalu memperoleh hasil yang besar. Binatang hutan seakan digiring ke dirinya. Bukan hanya itu, sesampainya di rumah, Pong Rumasek mendapati tanaman padi di sawahnya sudah menguning dan siap panen sebelum waktunya.
Pong Rumasek menganggap, segenap peruntungan itu diperolehnya berkat welas asih yang ditunjukkannya ketika merawat mayat tak bernama yang ditemukannya saat berburu. Sejak itulah, Pong Rumasek dan masyarakat Baruppu memuliakan mayat para leluhur, tokoh dan kerabat dengan upacara Ma’nene’.
Dalam ritual Ma’nene’ digelar, para perantau asal Baruppu yang bertebaran ke seantero negeri akan pulang kampung demi menghormati leluhurnya.
Warga Baruppu percaya, jika Ma’nene’ tidak digelar maka leluhur juga akan luput menjaga mereka, musibah akan melanda, penyakit akan menimpa warga, sawah dan kebun tak akan menghasilkan padi dan tanaman yang subur.

Keanehan-Keanehan Presiden RI

1. Soekarno (Presiden RI Pertama)

Aneh, melanggar Sila Pertama Pancasila (Ketuhanan Yang Maha Esa)
Karena terlalu memanjakan PKI (Partai Komunis Indonesia) yang konon dianggap sebagai gerakan anti Tuhan.

2. Soeharto (Presiden RI Kedua)

Aneh, melanggar Sila Kedua Pancasila (Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab)
Karena terjadi penindasan terhadap kekuatan politik kanan/kiri, penculikan mahasiswa, penghilangan aktivis, dll

3. B.J Habibie (Presiden RI Ketiga)

Aneh, melanggar Sila Ketiga Pancasila (Persatuan Indonesia)
Karena di bawah pemerintahannya, Timor Timur lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

4. Abdurrahman Wahid (Presiden RI Keempat)

Aneh, melanggar Sila Keempat Pancasila (Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan)
Karena berani membubarkan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

5. Megawati Soekarno Putri (Presiden RI Kelima)

Aneh, melanggar Sila Kelima Pancasila (Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia)
Karena rakyat makin hidup susah, eh..malah jual gas murah-murahan ke China.

Pemerintah Belum Jalankan Pancasila


Semua rezim yang memerintah di Indonesia sejak merdeka hingga saat ini dinilai gagal dalam menjalankan Pancasila sebagai ideologi negara dengan benar. Cita-cita mendirikan negara melalui sistem politik dan ekonomi yang dapat mewujudkan kesejahteraan berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia belum mampu diwujudkan pemerintahan mana pun.
Soekarno bisa dianggap sebagai pencetus Pancasila melalui pidatonya di Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada tanggal 1 Juni 1945. Namun, ia pun belum mampu mewujudkan cita-cita negara berdasarkan Pancasila melalui kepemimpinannya.
Lima tahun pertama periode kepemimpinannya, Soekarno dihadapkan pada situasi sulit mempertahankan kemerdekaan karena Belanda ingin berkuasa kembali. Dalam Periode demokrasi liberal tahun 1950-1958, ternyata pemerintahan tidak berjalan stabil. Kabinet jatuh bangun sehingga cita-cita mewujudkan kesejahteraan rakyat yang berkeadilan sosial pun jauh dari harapan.

Pemerintahan Orde Baru (ORBA), yang mengklaim menjalankan pembangunan sesuai dengan Pancasila, pada kenyataannya menjalankan ekonomi neoliberalisme. Sekarang pun kondisinya tidak berubah.
Bahkan, lebih mudah membuat kategori apakah pemerintahan saat ini dijalankan sesuai dengan ideologi Pancasila atau tidak. “Pertanyaannya mudah, Pancasilaiskah jika DPR ingin membangun gedung baru senilai Rp 1 triliun lebih jika pada saat yang sama ada satu kecamatan di Jawa Tengah yang mayoritas penduduknya idiot”.
Pancasila semestinya menjadi moral bersama yang mempertautkan elemen semua agama dalam pengaturan ruang publik di Indonesia. Pancasila sebagai titik temu solidaritas kolektif saat ini mendapat ancaman serius dari meruaknya aspirasi politik identitas yang membonceng arus globalisasi dan lokalisasi.

Penerapan Pancasila masih dalam tahap awal pada kehidupan bernegara. Indonesia harus mendarahdagingkan (Internalisasi) Pancasila sehingga menjadi negara modern dan demokratis. Tantangan terbesar Pancasila adalah kemauan dan konsistensi dalam menanamkan filosofi negara tidak sebatas retorika belaka.
Pancasila digali Soekarno dari budaya bangsa, dengan mempelajari ideologi yang sudah ada di dunia waktu itu. Pancasila menjadi sistem budaya dan demokrasi hasil perpaduan lokalitas dan universalitas serta perpaduan realisme dan idealisme.
Setelah 66 tahun yang lalu Soekarno berpidato dalam sidang BPUPKI, gagasan mengenai Pancasila justru terasa semakin aktual untuk dibicarakan. Kondisi politik-ekonomi yang carut-marut membuat warga Indonesia terus bertanya-tanya, sudahkah Pancasila menjadi panduan bagi para elite dan penyelenggara dalam bertindak?