Pemerintah Belum Jalankan Pancasila


Semua rezim yang memerintah di Indonesia sejak merdeka hingga saat ini dinilai gagal dalam menjalankan Pancasila sebagai ideologi negara dengan benar. Cita-cita mendirikan negara melalui sistem politik dan ekonomi yang dapat mewujudkan kesejahteraan berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia belum mampu diwujudkan pemerintahan mana pun.
Soekarno bisa dianggap sebagai pencetus Pancasila melalui pidatonya di Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada tanggal 1 Juni 1945. Namun, ia pun belum mampu mewujudkan cita-cita negara berdasarkan Pancasila melalui kepemimpinannya.
Lima tahun pertama periode kepemimpinannya, Soekarno dihadapkan pada situasi sulit mempertahankan kemerdekaan karena Belanda ingin berkuasa kembali. Dalam Periode demokrasi liberal tahun 1950-1958, ternyata pemerintahan tidak berjalan stabil. Kabinet jatuh bangun sehingga cita-cita mewujudkan kesejahteraan rakyat yang berkeadilan sosial pun jauh dari harapan.

Pemerintahan Orde Baru (ORBA), yang mengklaim menjalankan pembangunan sesuai dengan Pancasila, pada kenyataannya menjalankan ekonomi neoliberalisme. Sekarang pun kondisinya tidak berubah.
Bahkan, lebih mudah membuat kategori apakah pemerintahan saat ini dijalankan sesuai dengan ideologi Pancasila atau tidak. “Pertanyaannya mudah, Pancasilaiskah jika DPR ingin membangun gedung baru senilai Rp 1 triliun lebih jika pada saat yang sama ada satu kecamatan di Jawa Tengah yang mayoritas penduduknya idiot”.
Pancasila semestinya menjadi moral bersama yang mempertautkan elemen semua agama dalam pengaturan ruang publik di Indonesia. Pancasila sebagai titik temu solidaritas kolektif saat ini mendapat ancaman serius dari meruaknya aspirasi politik identitas yang membonceng arus globalisasi dan lokalisasi.

Penerapan Pancasila masih dalam tahap awal pada kehidupan bernegara. Indonesia harus mendarahdagingkan (Internalisasi) Pancasila sehingga menjadi negara modern dan demokratis. Tantangan terbesar Pancasila adalah kemauan dan konsistensi dalam menanamkan filosofi negara tidak sebatas retorika belaka.
Pancasila digali Soekarno dari budaya bangsa, dengan mempelajari ideologi yang sudah ada di dunia waktu itu. Pancasila menjadi sistem budaya dan demokrasi hasil perpaduan lokalitas dan universalitas serta perpaduan realisme dan idealisme.
Setelah 66 tahun yang lalu Soekarno berpidato dalam sidang BPUPKI, gagasan mengenai Pancasila justru terasa semakin aktual untuk dibicarakan. Kondisi politik-ekonomi yang carut-marut membuat warga Indonesia terus bertanya-tanya, sudahkah Pancasila menjadi panduan bagi para elite dan penyelenggara dalam bertindak?